PERENCANAAN PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN GEOGRAFI TINGKAT SMA DALAM KONTEKS KTSP


Abstrak
Perencanaan pembelajaran sangat penting karena seorang guru sejenius apapun punya keterbatasan. Keterbatasan tersebut harus disadari sepenuhnya untuk diantisipasi agar ketika di tengah siswa-siswinya mampu menjadi motivator dalam proses pembelajaran yang mencerdaskan. Perangkat pembelajaran mata pelajaran geografi diwujudkan dalam bentuk silabus dan RPP. Silabus adalah suatu rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Perencanaan merupakan fungsi utama yang mempengaruhi fungsi-fungsi berikutnya, sehingga seorang guru harus mampu menyusun perencanaan secara tertulis. Kemampuan guru menuangkan perencanaan pembelajaran dalam bentuk silabus dan RPP sangat penting karena perencanaan pembelajaran juga perlu mendapat evaluasi. Bahan yang akan dievaluasi harus dapat dinilai terlebih dahulu apakah perencanaan yang disusun sudah betul-betul layak. Perencanaan guru tidak cukup dalam kepala atau angan-angan saja.





PENDAHULUAN
Proses pembelajaran membutuhkan interaksi positif antara guru dengan siswa, sehingga komunikasi dua arah akan terwujud dalam suasana kondusif dan terjadi keseimbangan antara kebebasan siswa dalam mengekspresikan perasaannya dengan kewibawaan guru. Dengan demikian ada asumsi yang menjadi dasar dalam melaksanakan pembelajaran jika pembelajaran diorientasikan sebagai penciptaan lingkungan belajar, atau pembelajaran dimaknai sebagai upaya guru dalam menciptakan lingkungan belajar.
Dalam kasus tertentu, seorang guru gagal dalam menciptakan lingkungan belajar. Guru hanya mampu menjadi oase atau sumber belajar utama bagi siswa-siswanya. Hal tersebut tidak salah karena guru merupakan sumber pengetahuan bagi siswasiswanya. Tetapi akan lebih biijak jika guru mampu mendorong dan memberi jalan bagaimana siswa mencari dan menemukan oase pengetahuan yang dibutuhkan.
Bagi siswa SMA, mereka sudah layak untuk diberi motivasi dalam tataran yang lebih “berat”, yaitu mengemban tanggungjawab dan disiplin untuk memahami makna belajar. Berkaca dari pandangan Leibnitzs, bahwa manusia adalah organisme yang aktif, maka siswa SMA sebagai manusia bebas untuk berbuat, dan membuat suatu pilihan dalam setiap situasi.
Namun demikian kebebasan tersebut harus didasarkan pada kesadaran yang muncul pada dirinya, dan peran gurulah untuk memberi kesadaran, agar jiwa kebebasan dapat tersalurkan dengan baik. Guru harus mampu membuat perencanaan atau desain dalam proses pembelajaran agar mampu memberi stumulus positif untuk menciptakan lingkungan belajar.
Menurut Sudaryo dkk (1991) perencanaan pembelajaran atau desain instruksional merupakan usaha untuk menentukan menentukan prosedur instruksional dan mensistematisasikan proses belajar menajar dalam situasi tertentu sedemikian rupa sehingga perubahan tingkah laku yang diharapkan pada diri siswa terjadi.
Perencanaan pembelajaran sangat penting karena seorang guru sejenius apapun punya keterbatasan. Keterbatasan tersebut harus disadari sepenuhnya untuk diantisipasi agar ketika di tengah siswa-siswinya mampu menjadi motivator dalam proses pembelajaran yang mencerdaskan.
PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Mengajarkan materi geografi kepada siswa SMA membutuhkan strategi khusus. Oemar Hamalik (2008) menyatakan bahwa secara psikologis siswa SMA berada pada tingkat perkembangan masa remaja atau pubertas. Pada masa ini remaja mengalami proses yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangannya, yakni proses secara berkelanjutan guna memuaskan kebutuhannya. Guru geografi hendaknya sensitive terhadap kebutuhan siswa-siswanya dengan memperhatikan aspek-aspek berikut, yaitu: 1) Mempelajari kebutuhan remaja melalui berbagai pendapat orang dewasa. 2) Mengadakan angket yang ditujukan kepada para remaja untuk mengetahui masalah-masalah yang sedang mereka hadapi. 3) Bersikap sensitive terhadap kebutuhan yang tibatiba muncul dari siswa yang berada di bawah bimbingannya.
Dalam wacana manajemen, perencanaan merupakan unsur utama tahapan manajemen. Fungsi perencanaan jelas, yaitu sebagai penentu langkah berikutnya. Dalam proses pembelajaran perencanaan juga menjadi faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran. Secara umum perencanaan merupakan proses menyusun langkah-langkah yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Perencanaan tersebut dapat disusun berdasarkan kebutuhan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan keinginan pembuat perencanaan. Perencanaan berlaku bagi seluruh aspek kehidupan termasuk di bidang pendidikan khususnya pembelajaran.
Perencanaan merupakan upaya membuat kegiatan agar lebih fokus dan terarah. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hadari Nawawi (1983) yang menyatakan bahwa perencanaan adalah menyusun langkah-langkah penyelesaian suatu masalah atau pelaksanaan suatu pekerjaan yang terarah pada pencapaian tujuan tertentu. Perencanaan berarti menentukan apa yang akan dilaksanakan sebagaimana yang dipaparkan oleh Terry (1993) bahwa perencanaan adalah menetapkan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang digariskan. Perencanaan mencakup kegiatan pengambilan keputusan. Untuk itu diperlukan kemampuan untuk mengadakan visualisasi dan melihat ke depan guna merumuskan suatu pola tindakan untuk masa mendatang. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa perencanaan menempati posisi paling awal dari serangkaian fungsi manajemen.
Wina Sanjaya (2008( menyebutkan empat unsur perencanaan, yaitu 1) adanya tujuan yang harus dicapai, adanya strategi untuk mencapai tujuan, sumber daya yang dapat mendukung, dan implementasi setiap keputusan. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa perencanaan bukan terbatas hanya satu tahap kegiatan, tetapi melalui tahapan sistematis yang harus ditempuh.
Pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh para guru dalam menciptakan lingkungan belajar untuk memiliki pengalaman belajar. Dengan kata lain pembelajaran adalah suatu cara bagaimana mempersiapkan pengalaman belajar bagi peserta didik. Penyampaian materi pelajaran kepada siswa atau peserta didik yang lain membutuhkan serangkaian perencanaan dan pendekatan yang tepat agar daya serap peserta didik dapat dimaksimalkan. Jika hal tersebut dapat dilaksanakan maka pembelajaran akan berlangsung dengan baik. Dalam arti positif kegiatan pembelajaran akan membawa pengalaman batin yang menyenangkan, khususnya bagi siswa dan memberi tambahan pengetahuan, keterampilan sehingga akan terbentuk sikap yang diinginkan dalam kegiatan pembelajaran.
Penyusunan materi mengacu pada kurikulum yang telah ditetapkan oleh institusi yang menaunginya. Media pengajaran disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan. Sedangkan pendekatan lebih ditekankan pada aspek pemahaman pengajar dalam memahami materi yang akan disampaikan dan karakteristik siswa baik secara individu maupun kelompok. Berdasarkan uraian di atas, konsep perencanaan pembelajaran dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, yaitu: 1) Perencanaan pembelajaran sebagai teknologi, adalah suatu perencanaan yang mendorong penggunaan teknik-teknik yang dapat mengembangkan tingkah laku kognitif dan teori-teori konstruktif terhadap solusi dan problem-problem pembelajaran. 2) Perencanaan pembelajaran sebagai suatu sistem, adalah sebuah susunan dari sumber-sumber dan prosedur-prosedur untuk menggerakkan pembelajaran. Pengembangan sistem pembelajaran melalui proses yang sistemik selanjutnya diimplementasikan dengan mengacu pada sistem perencanaan itu. 3) Perencanaan pembelajaran sebagai sebuah disiplin, adalah cabang dari pengetahuan yang senantiasa memperhatikan hasilhasil penelitian dan teori tentang strategi pembelajaran dan implementasinya terhadap strategi tersebut. 4) Perencanaan pembelajaran sebagai sains, adalah mengkreasi secara detail spesifikasi dari pengembangan, implementasi, evaluasi, dan pemeliharaan akan situasi maupun fasilitas pembelajaran terhadap unit-unit yang luas maupun yang lebih sempit dari materi pelajaran dengan segala tingkatan kompleksitasnya. 5) Perencanaan pembelajaran sebagai sebuah proses, adalah pengembangan pembelajaran secara sistemik yang digunakan secara khusus atas dasar teori-teori pembelajaran dan pengajaran untuk menjamin kualitas pembelajaran. Dalam perencanaan ini dilakukan analisis kebutuhan dari proses belajar dengan alur yang sistemik untuk mencapai tujuan pembelajaran, termasuk di dalamnya melakukan evaluasi terhadap materi pelajaran dan aktivitasaktivitas pengajaran. 6) Perencanaan pembelajaran sebagai sebuah realitas, adalah ide pengajaran dikembangkan dengan memberikan hubungan pengajaran dari waktu ke waktu dalam suatu proses yang dikerjakan perencanaan dengan mengecek secara cermat semua kegiatan telah sesuai dengan tuntutan sains dan dilaksanakan secara sistemik.
Harjanto (2006) memaparkan bahwa perencanaan pengajaran mempunyai beberapa karakteristik, yaitu: (1) Merupakan suatu proses rasional, sebab berkaitan dengan tujuan sosial dan konsep-konsepnya dirancang oleh banyak orang. (2) Merupakan konsep dinamik, sehingga dapat dan perlu dimodifikasi jika informasi yang masuk mengharapkan demikian. (3) Perencanaan terdiri dari beberapa aktivitas, aktivitas itu banyak ragamnya, namun dapat dikatagorikan menjadi prosedur-prosedur dan pengarahan. (4) Perencanaan pengajaran berkaitan dengan pemilihan sumber dana, sehingga harus mampu mengurangi pemborosan, duplikasi, salah penggunaan dan salah dalam manajemennya.
MATERI POKOK GEOGRAFI SMA
Seminar dan Lokakarya di Semarang tahun 1988 telah menegaskan bahwa Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan, kewilayahan, dalam konteks keruangan. Dengan demikian siswa harus didekatkan dengan istilah kelingkungan, kewilayahan, dan keruangan.
Kandungan materi geografi mempunyai beban berat dalam menumbuhkan kesadaran kepada siswa untuk mencintai lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Siswa diarahkan pada pemahaman bahwa peristiwa alam yang terjadi di suatu daerah pasti mempunyai kaitan atau pengaruh dengan daerah lain. Isu pemanasan global merupakan salah satu contoh dari permasalahan lingkungan yang harus dipahami dan menjadi bahan perhatian siswa. Untuk itu guru geografi harus mampu mendesain pembelajaran agar tujuan tersebut tercapai melalui perencanaan yang cermat.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional  Pendidikan menjelaskan bahwa mata pelajaran geografi di tingkat SMA dalam struktur kurikulum yang ada diberikan kepada siswa kelas X, XI Ilmu Sosial, dan XII Ilmu Sosial. Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dalam sudut kelingkungan, kewilayahan dalam konteks keruangan. Semua gejala yang ada di permukaan bumi meliputi aspek fisik dan sosial yang tersebar pada ruas atmosfer, lithosfer, hidrosfer, biosfer, dan antroposfer sabagai faktor yang sangat menentukan dalam proses gejala perubahan gejala fenomena permukaan bumi.
Dalam kehidupan sehari-hari geografi merupakan ilmu untuk menunjang kehidupan sepanjang hayat dan mendorong peningkatan kehidupan. Lingkup bidang kajiannya memungkinkan manusia memperoleh jawaban atas pertanyaan dunia sekelilingnya yang menekankan pada aspek spasial, dan ekologis dari eksistensi manusia. Bidang kajian geografi meliputi bumi, aspek dan proses yang membentuknya, hubungan kausal dan spasial manusia dengan lingkungan, serta interaksi manusia dengan tempat. Sebagai suatu disiplin integratif, geografi memadukan dimensi alam fisik dengan dimensi manusia dalam menelaah keberadaan dan kehidupan manusia di tempat dan lingkungannya.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Geografi merupakan ilmu untuk menunjang kehidupan sepanjang hayat dan mendorong  peningkatan kehidupan. Lingkup bidang kajiannya memungkinkan manusia memperoleh jawaban atas pertanyaan dunia sekelilingnya yang menekankan pada aspek spasial, dan ekologis dari eksistensi manusia. Bidang kajian geografi meliputi bumi, aspek dan proses yang membentuknya, hubungan kausal dan spasial manusia dengan lingkungan, serta interaksi manusia dengan tempat. Sebagai suatu disiplin integratif, geografi memadukan dimensi alam fisik dengan dimensi manusia dalam menelaah keberadaan dan kehidupan manusia di tempat dan lingkungannya. Setelah siswa mempelajari geografi, maka peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1) Memahami pola spasial, lingkungan dan kewilayahan serta proses yang berkaitan. 2) Menguasai keterampilan dasar dalam memperoleh data dan informasi, mengkomunikasikan dan menerapkan pengetahuan geografi. 3) Menampilkan perilaku peduli terhadap lingkungan hidup dan memanfaatkan sumber daya alam secara arif serta memiliki toleransi terhadap keragaman budaya masyarakat
Di tingkat SMA, ruang lingkup mata pelajaran Geografi meliputi aspek-aspek sebagai berikut: 1. Konsep dasar, pendekatan, dan prinsip dasar Geografi. 2. Konsep dan karakteristik dasar serta dinamika unsur-unsur geosfer mencakup litosfer, pedosfer, atmosfer, hidrosfer, biosfer dan antroposfer serta pola persebaran spasialnya. 3. Jenis, karakteristik, potensi, persebaran spasial sumber daya alam (SDA) dan pemanfaatannya. 4. Karakteristik, unsur-unsur, kondisi (kualitas) dan variasi spasial lingkungan hidup, pemanfaatan dan pelestariannya. 5. Kajian wilayah  negara-negara maju dan sedang berkembang. 6. Konsep wilayah dan pewilayahan, kriteria dan pemetaannya serta fungsi dan manfaatnya dalam analisis geografi. 7. Pengetahuan dan keterampilan dasar tentang seluk beluk dan pemanfaatan peta, Sistem Informasi Geografis (SIG) dan citra penginderaan jauh.
Beban dan tanggungjawab guru geografi terasa lebih berat karena mata pelajaran geografi merupakan salah satu yang disertakan dalam Ujian Nasional. Artinya mata pelajaran geografi menjadi salah satu penentu kelulusan siswa di tingkat nasional. Konsekuensinya, guru geografi harus lebih bekerja keras meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi geografi. Berdasarkan Peraturan Menteri Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kelulusan untuk  satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, SKL untuk mata pelajaran geografi tingkat SMA adalah: (1)bMemahami hakikat, objek, ruang lingkup, struktur, dan pendekatan Geografi, (2) Mempraktekkan keterampilan dasar peta dan memanfaatkannya dalam mengkaji geosfer, (3) Memahami pemanfaatan citra dan SIG sebagai wahana memvisualkan geosfer, (4) Menganalisis dinamika dan kecenderungan perubahan unsurunsur geosfer serta dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi, (5) Memahami pola dan aturan tata surya dan jagad raya dalam kaitannya dengan kehidupan di muka bumi, (6) Memahami sumber daya alam dan pemanfaatannya secara arif, (7) Menganalisis pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidup dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan, (8) Menganalisis konsep wilayah dan pewilayahan dalam kaitannya dengan perencanaan pembangunan wilayah, pedesaan dan perkotaan, serta negara maju dan berkembang
PENYUSUNAN PERANGKAT PEMBELAJARAN GEOGRAFI
Wina Sanjaya (2006) memaparkan bahwa dalam prakteknya terdapat dua pandangan yang nampak dalam proses mengajar, yaitu mengajar sebagai proses menyampaikan materi pelajaran, dan mengajar sebagai proses mengatur lingkungan belajar. Sebagai proses penyampaian materi, mengajar mempunyai beberapa karakteristik, yaitu: proses pengajaran berorientasi pada guru, siswa sebagai objek belajar, kegiatan pengajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu, dan tujuan utama pengajaran adalah penguasaan materi pelajaran. Pandangan tersebut hamper bertolak belakang dengan pandangan  belajar sebagai proses mengatur lingkungan. Sebagai sebagai proses mengatur lingkungan, mengajar menekankan pada terjadinya perubahan perilaku pada siswa yang mempunyai beberapa karakteristik, yaitu mengajar berpusat pada siswa, siswa sebagai subjek belajar, dan pembelajaran berorientasi pada pencapaian tujuan.
Perbedaan antara mengajar sebagai proses penyampaian materi dengan mengajar sebagai pengatur lingkungan secara fisik akan muncul pada saat proses belajar berlangsung. Seorang guru yang dominan perannya pada saat proses pembelajaran tanpa memberi kesempatan murid untuk bertanya apalagi memberi tanggapan dikatakan guru yang menempatkan siswa sebagai obyek, atau dia sedang mempraktekkan mengajar sebagai proses penyampaian materi. Sebaliknya jika guru memberi kesempatan murid untuk berkreasi secara bebas, dan dia hanya memfasilitasi, maka dia sedang mempraktekkan proses mengajar sebagai menciptakan lingkungan belajar.
Menurut hemat penulis, pandangan keduanya tidak ada yang lebih baik dari satu dengan lainnya dalam konteks upaya pemenuhan tuntutan kurikulum. Jika guru diberi waktu terbatas untuk menyampaikan materi yang banyak, maka tidak ada pilihan lain bagi guru kecuali harus menyampaikan materi secara cepat, sehingga seolah-olah murid tidak diberi kesempatan untuk memberi tanggapan, karena keterbatasan waktu. Baik sebagai proses penyampaian materi maupun mengatur lingkungan belajar, mengajar membutuhkan perencanaan yang baik. Guru geografi dituntut siap ketika berhadapan dengan siswa di kelas. Kesiapan guru geografi akan mengurangi beberapa resiko yang mungkin muncul, yaitu penggunaan waktu yang tidak tepat, salah materi, maupun penjelasan materi yang tidak sempurna.
Untuk itu dibutuhkan perencanaan, baik secara administratif maupun akademis. Secara administrastif, perencanaan merupakan tanggungjawab guru yang diwujudkan dalam bentuk silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Selain itu, guru harus mampu membaca dan menerjemahkan kalender pendidikan dan mampu menyusun program semester
Secara akademis, guru dituntut untuk menguasai materi pelajaran. Guru geografi harus mampu menyiapkan materi secara rinci dan runtut, agar bahan yang disampaikan betul-betul dapat dinikmati siswa. Kemampuan guru dalam menguasai materi pelajaran merupakan indikator keseriusan dan kesiapan guru dalam menyongsong proses pembelajaran.
Perangkat pembelajaran mata pelajaran geografi diwujudkan dalam bentuk silabus dan RPP. Silabus adalah suatu rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.
1. Silabus
Mulyasa (2008) mendefinisikan silabus sebagai rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran dengan tema tertentu, yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar yang dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan, berdasarkan standar nasional pendidikan (SNP).
Guru geografi dituntut mampu menyusun silabus dengan baik. Silabus harus disusun karena silabus merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang implementasi kurikulum yang mencakup kegiatan pembelajaran, pengelolaan kurikulum berbasis sekolah, kurikulum dan hasil belajar, serta penilaian berbasis kelas. Silabus merupakan kerangka inti setiap kurikulum yang sedikitnya memuat tiga komponen utama sebagai berikut: a) Kompetensi yang ditanamkan kepada peserta didik melalui suatu kegiatan pembelajaran. b) Kegiatan yang harus dilakukan untuk menanamkan/membentuk kompetensi tersebut. c) Upaya yang harus dilakukan untuk mengetahui bahwa kompetensi tersebut sudah dimiliki peserta didik.
Menurut Mulyasa (2008), pengembangan silabus dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu mengembangkan silabus sendiri, menggunakan model silabus yang dikembangkan oleh BSNP, dan menggunakan atau mencopy silabus dari sekolah lain. Idealnya Guru geografi harus mampu mengembangan silabus sendiri dengan memperhatikan prinsip-prinsip penyusunan silabus, yaitu ilmiah (dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah), relevan (cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial emosional, dan spiritual siswa), sistematis (komponen yang ada saling berhubungan), konsistensi (tidak mudah mengalami perubahan), memadai (menunjang kompetensi siswa), aktual dan kontekstual (sesuai dengan keadaan), fleksibel (dapat mengakomodir keberagaman siswa), dan menyeluruh (mencakup ranah kognitif, psikomotorik, afektif).
Guru geografi perlu memahami langkahlangkah pengembangan silabus. Mulyasa (2008) menyebutkan sedikitnya terdapat lima langkah penting yang harus ditempuh guru dalam pengembangan silabus, yaitu perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, revisi, dan pengembangan silabus berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, terdapat tujuh komponen yang harus ada dalam penyusunan silabus, yaitu: 1) stándar kompetensi dan kompetensi dasar, 2) materi stándar, 3) kegiatan pembelajaran, 4) indikator, 5) penilaian, 6) alokasi waktu, dan 7) sumber belajar.
2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Menurut Masnur Muslich (2008), rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rancangan mata pelajaran per unit yang akan diterapkan guru dalam pembelajaran di kelas. Berdasarkan RPP inilah seorang guru diharapkan bisa menerapkan pembelajaran secara terprogram. Karena itu RPP harus mempunyai daya terap (aplicable) yang tinggi. RPP mempunyai fungsi perencanaan dan fungsi pelaksanaan pembelajaran. Sebagai fungsi perencanaan RPP mendorong guru lebih siap melakukan kegiatan pembelajaran dengan perencanaan yang matang. Dalam pelaksanaan, RPP berfungsi mengefektifkan proses pembelajaran sesuai dengan apa yang direncanakan.
RPP berbasis kompetensi melalui pendekatan kontekstual dirancang oleh guru yang akan melaksanakan pembelajaran di kelas yang berisi skenario tentang apa yang akan dilakukan siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Pengembangan RPP ini berdasarkan paham konstruktivisme yang menekankan pada tahap-tahap kegiatan yang mencerminkan proses pembelajaran siswa dan media atau sumber pembelajaran yang dipakai. Secara teknis rencana pembelajaran minimal mencakup komponen-komponen berikut, yaitu: 1)stándar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pencapaian hasil belajar, 2) tujuan pembelajaran, 3) materi pembelajaran, 4) pendekatan dan metode pembelajaran, 5) langkahlangkah kegiatan pembelajaran, 6) alat dan sumber belajar, dan 7) evaluasi pembelajaran.
Guru geografi dapat menyusun RPP dalam format tersebut, tetapi masih dimungkin menyusun dalam format yang lain dengan mempertimbangkan materi dan kondisi siswa di masing-masing sekolah.
PENUTUP
Dalam prakteknya, guru geografi jarang menyusun silabus dan RPP secara mandiri karena keterbatasan waktu dan kesempatan. Selama ini banyak guru geografi hanya menggunakan silabus dan RPP yang telah disusun MGMP atau yang telah disusun  pihak lain. Hal tersebut dapat dimaklumi karena untuk menyusun silabus dan RPP sesuai dengan prinsip-prinsip penyusunan membutuhkan energi besar dan waktu yang panjang. Pemanfaatan silabus dan RPP yang disusun pihak lain mestinya dihindari. Guru harus mampu menyusun silabus dan RPP mandiri secara bertahap. Jika menyusun sendiri terasa berat, maka guru geografi perlu mengoptimalkan kerja kolektif, sehingga semua terlibat dalam penyusunan. Jika semua terlibat, maka pemahaman terhadap istilah-istilah yang muncul dalam silabus dan RPP dapat dipahami.
Perencanaan merupakan fungsi utama yang mempengaruhi fungsi-fungsi berikutnya, sehingga seorang guru harus mampu menyusun perencanaan secara tertulis. Kemampuan guru menuangkan perencanaan pembelajaran dalam bentuk silabus dan RPP sangat penting karena perencanaan pembelajaran juga perlu mendapat evaluasi. Bahan yang akan dievaluasi harus dapat dinilai terlebih dahulu apakah perencanaan yang disusun sudah betul-betul layak. Perencanaan guru tidak cukup dalam kepala atau angan-angan saja.



DAFTAR RUJUKAN
Abdul Majid. 2006. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung. Remaja Rosdakarya
Harjanto. 2006. Perencanaan Pengajaran. Jakarta. Rineka Cipta
Ike Kusdyah Rahmawati. 2004. Manajemen: Konsep-konsep dasar dan Pengantar Teori. Malang: UMM Press
Masnur Muslich. 2008. KTSP: Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual: Panduan Bagi Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah.
Mulyasa. 2008. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah. Jakarta. Bumi Aksara
Oemar Hamalik. 2008. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung. Rosdakarya
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tentang Standar Isi, Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Peraturan menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan
Wina Sanjaya. 2008. Perencanaan dan Desain Sistem pembelajaran. Jakarta. Kencana
Wina Sanjaya. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta. Kencana

 

oleh Muh. Sholeh, S.P.d, M.P.d dosen  Jurusan Geografi FIS UNNES
artikel ini bisa di download disini

Related

Geo Corner 4746286012663695818

Poskan Komentar

emo-but-icon

Language

Hot Post

Recent

Follow adityo_akd on Twitter

Google+ Followers

item